BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Genetika adalah Ilmu yang mempelajari tentang
mekanisme pewarisan sifat dari induk kepada keturunanya. Genetika berasal dari bahasa latin yaitu Genos yang berarti asal-usul. Dalam jurusan Biologi, matakuliah ini memiliki bobot
sebanyak 4 sks (Satuan Kredit Semester), yaitu 3 sks untuk teori dan 1 sks
untuk praktikum. Dimana matakuliah ini diambil oleh mahasiswa semester 5.
Mata kuliah ini membahas tentang pengertian
genetika, mekanisme mitosis dan meiosis sel, daur perkembangan sel, dasar-dasar
pewarisan Mendel, interaksi gen, tautan gen, pindah silang dan pemetaan
kromosom. Teori kemungkinan, penentuan jenis kelamin dan pewarisan sifat yang
berkaitan dengan jenis kelamin, struktur halus genetik, pewarisan dalam inti
dan pewarisan ekstra kromosom, perubahan pada struktur dan jumlah kromosom,
serta mutage-nesis juga diberikan dalam mata kuliah ini. Genetika populasi yang
berkaitan dengan keseimbangan Hardi-Weinberg dan pewarisan sifat kuantitatif
juga menjadi bahasan dalam mata kuliah ini.
Pengetahuan
tentang adanya sifat menurun pada makhluk hidup sebenarnya sudah lama
berkembang hanya belum di pelajari secara sistematis. Penelitian mengenai
pola-pola penurunan sifat baru di ketahui pada abad ke- 19 oleh Gregor Mendel. Mendel melakukan serangkaian percobaan persilangan
pada kacang ercis (Pisum sativum). Dari percobaan yang di
lakukannya selama bertahun-tahun tersebut, Mendel berhasil menemukan
prinsip-prinsip pewarisan sifat, yang kemudian menjadi landasan utama bagi
perkembangan genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan. Berkat
karyanya inilah, Mendel di akui sebagai bapak genetika.
Keanekaragaman makhluk hidup adalah perbedaan diantara
makhluk hidup yang berbeda jenis dan sifatnya. Keanekaragaman makhluk terjadi
karena adanya perbedaan sifat, seperti ukuran, bentuk, warna, fungsi organ,
tempat hidup dan lain-lain. Keanekaragaman makhluk hidup sangat penting bagi
kelangsungan dan kelestarian makhluk hidup. Suatu kelompok makhluk hidup yang
memiliki kelestarian tinggi, terdapat keanekaragaman yang tinggi. Sebaliknya
makhluk hidup yang memiliki tingkat kelestarian rendah, terdapat keanekaragaman
rendah dan terancam punah.
Keanekaragaman makhluk hidup adalah
suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara
ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup
gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan
proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat
juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem
atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran
kesehatan sistem biologis.
Hewan
termasuk kingdom Animalia, merupakan kelompok besar organisme yang
multiselular, ,mampu menanggapi rangsangan dengan aktif dan memperoleh nutrient
dengan memakan organisme lain (heterotrof).Keanekaragaman pada hewan merupakan
variasi dari struktur, bentuk, jumlah, dan sifat lainnya. Hewan dibagi menjadi
dua bagian: Invertebrata Adalah hewan yang tidak bertulang belakang. Hewan ini
memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan
kelompok hewan bertulang belakang. Contoh hewan invertebrate adalah: Protozoa
adalah hewan bersel satu karena hanya memeiliki satu sel saja alias bersel
tunggal dengan ukuran yang mikroskopis hanya dapat dilihat dengan mikroskop.
Kedua vertebrata yaitu hewan yang bertulang belakang atau punggung.
Memiliki struktur tubuh yang lebih jauh sempurna dibandingkan dengan hewan
invertebrate. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat
terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak.
Tidak
ada dua manusia yang tepat sama, individu satu dengan lainnya mempunyai
persamaan dan perbedaan, sifat yang menurun baik sifat kualitatif maupun
genetik dan faktor lingkungan. Akibatnya adanya pengaruh lingkungan ini, maka
individu yang bergenotip berbeda kemungkinan akan mempunyai fenotip yang sama
adanya pewaris sifat, dalam populasi dapat kita lihat adanya sifat yang sangat
bervariasi sehingga kecil kemungkinan adanya persamaannya. Berbagai sifat
diwariskan secara poligenik sehingga variasinya cukup luas seperti warna kulit,
tinggi badan,kecerdasan, sidik jari, refraksi mata dll.
Kenekaragaman dapat terjadi akibat
dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik atau
faktor keturunan adalah sifat dari makhluk hidup itu sendiri yang diperoleh
dari induknya. Faktor genetik ditentukan oleh gen atau pembawa sifat. Faktor
lingkungan adalah faktor dari luar makhluk hidup yang meliputi lingkungan
fisik, lingkungan kimia, dan lingkungan biotik. Lingkungan biotik misalnya
suhu, kelembapan cahaya, dan tekanan udara. Lingkungan kimia misalnya makanan,
mineral, keasaman, dan zat kimia buatan. Lingkungan biotik misalnya
mikrooaganisme, tumbuhan, hewan, dan manusia. Keanekaragaman makhluk hidup
dapat terbentuk karena perkawinan (persilangan) dan kondisi lingkungan.
Perkawinan dapat menghasilkan
keanekaragaman. Perkawinan antara spesies yang berbeda mungkin dapat
menghasilkan keturunan, tetapi keturunannya itu tidak mampu menghasilkan
keturunan yang baru. Yang mana keturunan yang baru itu, merupakan keturunan
yang steril. Perkawinan antar individu didalam jenis (spesies) yang sama akan
menghasilkan keturunan yang fertil. Artinya, keturunan tersebut mampu
berkembang biak menghasilkan keturunan berikutnya. Didalam spesies yang sama
terdapat perbedaan sifat. Perkawinan antar makhluk hidup yang berbeda sifat
dapat menghasilkan keturunan yang memiliki sifat baru. Keturunan dengan sifat
yang baru tersebut merupakan individu baru. Perkawinan demikian disebut
persilangan. Jadi, melalui persilangan akan muncul keanekaragaman yang baru.
1.2 Tujuan Praktikum
1.2.1. Tujuan
Praktikum Keanekaragaman Tumbuhan
1. Mengetahui
berbagai variasi keanekaragaman tumbuhan.
2. Mempelajari
bagaimana cara pengklasifikasian atau pemberian nama pada makhluk.
3. Mengetahui
perbedaan dari setiap morfologi terhadap bahan yang di praktikumkan.
4. Menghitung
setiap kelopak dan benang sari yang terdapat di setiap bunga tersebut.
5. Mendeskripsikan
ciri-ciri bunga/mahluk hidup yang sudah diamati untuk membedakan tiap-tiap
jenisnya.
1.2.2. Tujuan
Praktikum Keanekaragaman Hewan
1. Mengetahui
berbagai variasi keanekaragaman hewan.
2. Mempelajari
bagaimana cara pengklasifikasian atau pemberian nama pada makhluk.
3. Mengetahui
perbedaan dari setiap morfologi terhadap bahan yang di praktikumkan.
4. Mengukur
setiap ikan yang dibawa, dan mencatat hasil yang didapat pada saat pengukuran
tersebut.
5. Mendeskripsikan
ciri-ciri mahluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenisnya.
1.2.3. Tujuan
Praktikum Keanekaragaman Manusia
1. Untuk
mengetahui variasi sifat pada manusia khususnya sifat-sifat fisik.
2. Untuk
mengetahui penyebaran sifat-sifat pada manusia
3. Untuk
melihat persamaan sifat yang terbanyak dalam populasi kelas.
4. Untuk
melihat perbedaan sifat yang terbanyak dalam populasi kelas.
5. Untuk
mengetahui berbagai variasi keanekaragaman pada manusia.
1.3 Manfaat Praktikum
1.3.1. Manfaat
Praktikum Keanekaragaman Tumbuhan
1. Memudahkan
dalam mengenal makhluk hidup.
2. Memudahkan
dalam mempelajari organisme yang beranekaragam.
3. Mengetahui
persamaan dan perbedaan antara bunga yang satu dengan bunga yang lainnya
4. Mengetahui
hubungan kekerabatan antar makhluk hidup.
5. Sebagai
sarana pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan
1.3.2. Manfaat
Praktikum Keanekaragaman Hewan
1. Sebagai
sarana pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan.
2. Memudahkan
dalam mempelajari organisme yang beranekaragam.
3. Mengetahui
persamaan dan perbedaan antara makhluk hidup.
4. Mengetahui
hubungan kekerabatan antar makhluk hidup.
5. Memudahkan
dalam mengenal makhluk hidup.
1.3.3. Manfaat
Praktikum Keanekaragaman Manusia
1. Sebagai
sarana pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan.
2. Memudahkan
untuk melakukan candra pada sifat-sifat yang nampak pada setian anggota
kelompok.
3. Memudahkan
dalam membedakan sifat-sifat manusia dalam anggota kelompok.
4. Memudahkan
untuk menentukan kemungkinan genotip dari sifat dengan mengingat sifat dominan
dan resesif dalam anggota kelompok.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati tumbuh dan berkembang dari
keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetis, dan keanekaragaman ekosistem.
Karena ketiga keanekaragaman ini saling kait-mengkait dan tidak terpisahkan,
maka dipandang sebagai satu keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman
hayati. Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk,
penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat
jenis dan tingkat ekosistem (Wolf, 1992).
Keanekaragaman
makhluk hidup disebut juga dengan keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Istilah keanekaragaman hayati atau “biodiversitas” menunjukkan sejumlah variasi
yang ada pada makhluk hidup di suatu lingkungan tertentu. Dengan kata lain,
biodiversitas dapat diartikan sebagai persamaan dan perbedaan ciri makhluk
hidup pada waktu dan tempat tertentu. Keanekaragaman makhluk hidup dapat
terjadi karena adanya proses evolusi yang sangat lama. Selain itu juga dipengaruhi
oleh adanya faktor adaptasi, batas geografi, dan rekayasa genetik. Keanekaragaman
hayati yang ada di bumi kita ini merupakan hasil proses evolusi yang sangat
lama, sehingga melahirkan bermacam-macam makhluk hidup. Keanekaragaman hayati
dapat dikelompokkan atas keanekaraman gen, jenis dan ekosistem (Winchester : 1958).
a.
Keanekaragaman Gen
Keanekaragaman Tingkat Gen. Makhluk hidup tersusun atas unit satuan terkecil yang kita kenal sebagi sel. Dalam inti sel terdapat materi pembawa sifat yang disebut gen. Setiap individu memiliki jumlah dan variasi susunan gen yang berbeda-beda. Pada prinsipnya bahan penyusun Gen setiap makhluk hidup adalah sama, namun jumlah dan susunanya yang berbeda-beda sehingga menampilkan sifat-sifat yang berbeda-beda pula.
Keanekaragaman Tingkat Gen. Makhluk hidup tersusun atas unit satuan terkecil yang kita kenal sebagi sel. Dalam inti sel terdapat materi pembawa sifat yang disebut gen. Setiap individu memiliki jumlah dan variasi susunan gen yang berbeda-beda. Pada prinsipnya bahan penyusun Gen setiap makhluk hidup adalah sama, namun jumlah dan susunanya yang berbeda-beda sehingga menampilkan sifat-sifat yang berbeda-beda pula.
b.
Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman tingkat jenis adalah
perbedaan-perbedaan pada berbagai species makhluk hidup di suatu tempat.
Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka
macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan
mikroba. Misalnya: Variasi dalam satu famili antara kucing dan harimau. Mereka
termasuk dalam satu famili(famili/keluarga Felidae) walaupun ada perbedaan
fisik, tingkah laku dan habitat.
c.
Keanekaragaman Ekosistem
Keanekaragaman tingkat
ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dari ekosistem di biosfir. misalnya
: Ekosistem gurun di dalamnya ada unta, kaktus, dan ekosistem hutan tropis di
dalamnya ada harimau. Di dalam
ekosistem, seluruh makhluk hidup yang terdapat di dalamnya selalu melakukan
hubungan timbal balik, baik antar makhluk hidup maupun makhluk tak hidup dengan
lingkungnnya atau komponen abiotiknya. Hubungan timbal balik ini menimbulkan
keserasian hidup di dalam suatu ekosistem (Susanto, Agus : 2011).
Dalam
ilmu biologi molekuler persilangan
diartikan sebagai teknik berikatannya suatu untaian tunggal DNA atau RNA dengan
untaian komplemen yang berasal dari RNA atau DNA yang berbeda. Persilangan
dapat terjadi di antara individu yang berbeda spesies (persilangan
interspesifik) maupun antar individu dalam satu spesies (persilangan
intraspesifik) yang umumnya dikenal sebagai persilangan antar galur (untuk
tanaman) atau antar aksesi.
Perkembangbiakan manusia melalui perkawinan adalah
contoh persilangan dalam satu spesies. Dalam ilmu peternakan istilah
persilangan lebih sering disebut dengan perkawinan. Individu keturunan hasil
proses persilangan dapat bersifatsubur, mandul,
maupun mandul sebagian.
Generasi
keturunan hasil suatu persilangan disebut filial disimbolkan
dengan huruf F besar dan angka yang menandakan urutan generasi. Contoh
penulisan generasi keturunan yaitu: F1 untuk generasi pertama hasil persilangan
dan F2 untuk generasi kedua hasil persilangan. Awalnya tujuan utama dari
persilangan ialah menggabungkan dua sifat baik atau unggul dari dua tetua dalam
satu individu atau populasi (Yatim, Wildan : 2003).
a. Persilangan
Monohibrid
Persilangan/perkawinan
monohibrid ialah perkawinan antara dua individu dengan memperhatikan satu sifat
beda. Percobaan Mendel yang menyilangkan ercis berbatang tinggi dengan ercis
berbatang pendek merupakan contoh perkawinan monohibrid. Setiap makhluk hidup
memiliki banyak sifat yang dapat diamati. Dalam persilangan monohibrid, hanya
diperhatikan salah satu sifat seperti tinggi tanaman saja, warna polong saja,
atau sifat yang lain.
b.
Persilangan Dihibrid
Persilangan
dihibrid ialah persilangan dengan dua sifat beda. Contohnya hasil percobaan
Mendel. pada biji tanaman ercis (Starr, Cecie : 2010).
2.2. Keanekaragaman Manusia
Keanekaragaman
merupakan dasar ciri–ciri makhluk hidup. Adanya keanekaragaman genetik
merupakan hasil seleksi alam dari suatu spesies terhadap lingkungannya.
Keanekaragaman tidak hanya terjadi pada tumbuhan dan hewan saja tetapi juga
manusia. Namun pada manusia, keanekaragaman yang terjadi hanya pada tingkat gen
dan berkaitan dengan pewarisan sifat. Manusia memperlihatkan variasi pada
beberapa ciri-ciri yang dapat dilihat dengan mudah melalui fenotip atau sifat
yang tampak.
Fenotip
dapat dikatakan sebagai karakteristik atau ciri-ciri yang dapat diukur atau
sifat yang nyata yang dmiliki oleh organisme. Ciri itu tampak oleh mata,
seperti warna kulit atau tekstur rambut. Fenotip dapat juga diuji untuk
identifikasinya, seperti pada penentuan angka respiratoris atau uji serologi
tipe darah. Fenotip merupakan hasil produk-produk gen yang diekspresikan di
dalam lingkungan tertentu. Namun, gen memiliki batasan-batasan di dalamnya
sehingga lingkungan dapat memodifikasi fenotip.
Genotip
ialah seluruh gen yang dimiliki suatu individu. Genotip yang terekpresikan
menampakan fenotip pada suatu individu. Genotip yang melibatkan alel-alel pada
suatu lokus tunggal dapat menghasilkan genotip yang homozigot. Keturunan
homozigot dapat dihasilkan dari galur murni. Perpaduan heterozigot dihasilkan
dari alel yang berbeda (Tjan kwiauw : 1990).
2.3.Keanekaragaman Hewan
Hewan
adalah kelompok besar organisme yang multiseluler, mampu menanggapi rangsangan
dengan aktif, dan memperoleh nutrien dengan memakan organisme lain
(heterotrof). Keanekaragaman pada hewan merupakan variasi dari struktur,
bentuk, jumlah, dan sifat lainnya pada suatu waktu dan tempat tertentu.
Hewan
termasuk dalam Kingdom Animalia. Berdasarkan ada atau tidaknya tulang belakang,
hewan dibagi menjadi dua yaitu:
a. Invertebrata
Hewan
Invertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang. Hewan ini memiliki
struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok
hewan bertulang punggung/belakang. Selain itu, sistem pencernaan, pernapasan
dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata.
b. Vertebrata
Hewan
vertebrata yaitu hewan yang bertulang belakang atau punggung. Memiliki struktur
tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan Invertebrata. Hewan
vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel
saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di
memiliki oleh yang tidak bertulang punggung. Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan
vertebrata telah memiliki system kerja sempurna peredaran darah berpusat organ
jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya (Stansfield : 1983).
2.4.
Persilangan
Persilangan
dalam ilmu biologi pada cabang ilmu genetika
merupakan suatu peristiwa perkawinan antara
satu individu ataupun populasi yang
berbeda secara genetik untuk
menghasilkan keturunan yang merupakan gabungan sifat dari tetua ataupun rekombinasi gen-gen pada keturunannya.
2.5. Variasi Tumbuhan
Jika kita
mengamati sifat – sifat yang ada pada tumbuhan akan terlihat persamaan –
persamaan dan perbedaan – perbedaan. Hal ini terjadi karena adanya sifat –
sifat yang menurun dan adanya pengaruh lingkungan. Tumbuhan juga mempunyai
variasi antara lain dalam bentuk, warna dan ukuran.
2.6.
Variasi Ikan
Keanekaragaman adalah sifat beda
dari organisme dalam satu spesies atau populasi. Dengan adanya sifat beda akan
terjadi variasi atau keanekaragaman dari organisme dalam suatu spesies. Begitu
juga halnya dengan ikan, yang akan memiliki persamaan maupun perbedaan dalam
satu spesies. Ikan juga mempunyai variasi antara lain dalam bentuk, warna dan ukuran.
2.7.
Variasi Manusia
Tidak ada dua manusia yang tepat
sama, individu satu dengan yang lainnya mempunyai persamaan dan perbedaan,
sifat yang menurun; baik sifat kualitatif maupun kuantitatif. Perbedaan yang
ada diantaranya individu satu dengan yang lainnya ditentukan faktor genetik dan
faktor lingkungan (Bhimasarf, 2009)
BAB III
PELAKSANAAN
PERCOBAAN
3.1. Alat
dan Bahan
3.1.1. Tabel Alat Praktikum
Keanekaragaman Tumbuhan
|
No.
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
|
1.
|
Pisau
|
1 Buah
|
|
2.
|
Busur
|
1 Buah
|
|
3.
|
Jangka
|
1 Buah
|
|
4.
|
Alat kebersihan
|
1 set
|
|
5.
|
Pensil
|
2 Buah
|
|
6.
|
Spidol
|
3 Buah
|
|
7.
|
Pensil Warna
|
5 Buah
|
|
8.
|
Karton
|
5 buah
|
|
9.
|
Kotak Pensil
|
1 Buah
|
|
10.
|
Penggaris
|
2 Buah
|
|
11.
|
Kaca Pembesar
|
1 Buah
|
3.1.2. Tabel Alat Praktikum
Keanekaragaman Hewan
|
No.
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
|
1.
|
Penggaris
|
2 Buah
|
|
2.
|
Pensil
|
2 Buah
|
|
3.
|
Alat kebersihan
|
1 Set
|
|
4.
|
Kotak Pensil
|
1 Buah
|
|
5.
|
Pensil Warna
|
2 Buah
|
3.1.3. Tabel Alat Praktikum
Keanekaragaman Manusia
|
No
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
|
1
|
Pensil
|
1 buah
|
|
2
|
Pulpen
|
1 buah
|
|
3
|
Rol
|
1 buah
|
|
4
|
Kertas HVS
|
1 lembar
|
|
5
|
Alat kebersihan
|
1 set
|
3.2.4. Tabel Bahan Praktikum Keanekaragaman
Tumbuhan
|
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
|
1.
|
Bougenvil Nila
|
1
Tangkai
|
|
2.
|
Bougenvil Ungu
|
1 Tangkai
|
|
3.
|
Bougenvil Orange
|
1 Tangkai
|
|
4.
|
Bougenvil Putih
|
1 Tangkai
|
|
5.
|
Bougenvil Merah
|
1 Tangkai
|
|
6.
|
Aster Merah muda
|
1 Tangkai
|
|
7.
|
Aster Violet
|
1 Tangkai
|
|
8.
|
Aster Putih
|
1 Tangkai
|
|
9.
|
Aster Lembayung
|
1 Tangkai
|
|
10.
|
Aster Ungu
|
1 Tangkai
|
|
11.
|
Canna Hijau Kekuningan
|
1 Tangkai
|
|
12.
|
Canna Kuning
|
1 Tangkai
|
|
13.
|
Canna Orange
|
1 Tangkai
|
|
14.
|
Canna Merah
|
1 Tangkai
|
|
15.
|
Canna Coklat
|
1 Tangkai
|
3.2.5.
Tabel Bahan Praktikum Keanekaragaman Hewan
|
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
|
1.
|
Ikan mas
|
2 Ekor
|
|
2.
|
Ikan Mujahir
|
2 Ekor
|
3.2.6. Tabel Bahan Praktikum Keanekaragaman
Manusia
|
No
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
|
1
|
Praktikan
putra/putri
|
5 orang/kelompok
|
3.2. Prosedur Kerja
3.2.1. Tabel Prosedur Kerja Keanekaragaman
Tumbuhan
|
No
|
Prosedur kerja
|
|
1
|
Menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan di atas meja praktikan secara rapi dan lengkap
|
|
2
|
letakkan semua jenis bunga
Bougenville, semua jenis bunga Aster, dan semua jenis bunga Kana sesuai
dengan yang diwajibkan pada praktikum ini di atas meja praktikum yang bersih
|
|
3
|
Amati warna bunga, daun, dan tangkai
setiap bunga yang akan diidentifikasi
|
|
4
|
Kemudian mengukur panjang dan lebar daun
milik masing-masing bunga.
|
|
5
|
Menghitung jumlah mahkota
masing-masing bunga satu persatu secara teliti dan akurat
|
|
6
|
Menghitung jumlah kelopak masing-
masing bunga satu pesatu secara teliti dan akurat
|
|
7
|
Menghitung jumlah putik dan benang
sari pada masing-masing bunga
|
|
8
|
Setelah melakukan identifikasi, maka
catatlah hasil pengamatan yang telah dipraktikkan di lembar yang telah
dibuat.
|
3.2.2.
Tabel Prosedur Kerja Keanekaragaman Hewan
|
No
|
Prosedur kerja
|
|
1
|
Menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan di atas meja praktikan secara rapi dan lengkap
|
|
2
|
letakkan ikan mas merah, mas hitam,
nila merah, dan nila hitam di atas bak
paraffin yang bersih
|
|
3
|
Amati warna seluruh tubuh pada masing-
masing ikan, dan amati warna sisik pada ikan yang akan di identifikasi.
|
|
4
|
Kemudian ukurlah panjang dan lebar
sisik ikan mas merah, mas hitam, nila merah, dan nila hitam, dengan
menggunakan penggaris.
|
|
5
|
Ukurlah panjang dan lebar badan ikan
mas merah, mas hitam, nila merah, dan nila hitam hitam, m dengan menggunakan
penggaris.
|
|
6
|
Ukurlah panjang dan lebar sirip ikan
mas merah, mas hitam, nila merah,dan nila hitam dengan menggunakan penggaris.
|
|
7
|
Setelah melakukan identifikasi, maka
catatlah hasil pengamatan yang telah dipraktikkan di lembar yang telah
dibuat.
|
|
|
|
3.2.3. Tabel Prosedur Kerja Keanekaragaman
Manusia
|
No.
|
Prosedur Kerja
|
|
1
|
Melakukan kegiatan
secara berkelompok, tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang dan di usahakan
terdiri dari mahasiswa putra dan putri.
|
|
2
|
Melakukan candra pada
sifat-sifat yang nampak pada setiap anggota kelompok, sekurang-kurangnya 8
sifat (lihat tabel 4.3.1)
|
|
3
|
Menuliskan hasil
pencandraan pada tabel 2yang tersedia, tentukan pula kemungkinan genotip dari
sifat tersebut dengan mengingat sifat dominan dan resesifnya.
|
|
4
|
Membuat cakram
genetik berdasarkan hasil yang tertulis dalam tabel. Usahakan sifat setiap
individu dalam anggota-anggota kelompok diberi warna yang berbeda. Jika
kelompok terdiri dari 5 anggota berarti ada lima warna dalam cakram genetik.
|
|
5
|
Menentukan angka
indeks setiap anggota kelompok.
|
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil Serta Pembahasan Praktikum Keanekaragaman Tumbuhan
4.1.1. Tabel hasil penelitian terhadap bunga
Bougenville
|
NO.
|
PARAMETER
|
BN
|
BU
|
BO
|
BP
|
BM
|
|
1.
|
Warna
bunga
|
Nila
|
Ungu
|
Orange
|
Putih
|
Merah
|
|
2.
|
Warna
daun
|
Hijau
muda
|
Hijau
tua
|
Hijau
muda
|
Hijau
muda
|
Hijau
|
|
3.
|
Warna
tangkai
|
Coklat
|
Hijau
|
Hijau
|
Putih
kecoklatan
|
Coklat
|
|
4.
|
Jumlah
mahkota
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
|
5.
|
Jumlah
kelopak
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
|
6.
|
Jumlah
putik
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
7.
|
Jumlah
benang sari
|
8
|
8
|
8
|
8
|
8
|
|
8.
|
Panjang
daun
|
4cm
|
7,3cm
|
4,5cm
|
4,7cm
|
4cm
|
|
9.
|
Lebar
daun
|
2,2cm
|
5,0cm
|
3,0cm
|
2,8cm
|
3,5cm
|
|
|
KETERANGAN
|
Nila
|
Ungu
|
Orange
|
Putih
|
Merah
|
a. Pembahasan Tabel
Dari
tabel hasil penelitian terhadap bunga bougenvile pada praktikum keanekaragaman
tumbuhan diatas dapat dijelaskan bahwa, terdapat banyak variasi warna bunga
bougenville, yaitu Bougenville nila, Bougenville ungu, bougenville orange,
Bougenville putih, Bougenville merah. Warna daun pada tiap bunga bougenville
yang berwarna bunga berbeda juga bervariasi, yaitu pada bunga Bougenville nila,
orange, dan putih sama-sama memiliki warna hijau muda, sedangkan Bougenville
ungu memiliki daun berwarna hijau tua, dan Bougenville merah memiliki daun
berwarna hijau dimana hijau nya tidak terlihat tua seperti pada daun
bougenville ungu dan tidak juga terlihat muda seperti daun pada bunga
bougenville nila, orange, dan putih. Begitu juga terhadap warna tangkai
bunganya, terdapat variasi warna yaitu, bougenville nila dan merah memiliki
tangkai berwarna coklat, bougenville ungu dan orange bertangkai warna hijau,
dan bougenville putih memiliki tangkai berwarna putih kecoklatan.
Jumlah
mahkota pada masing-masing bunga bougenville adalah 5 lembar, begitu juga
jumlah kelopak nya tidak berbeda-beda yaitu masing-masing memiliki 3 lembar
kelopak pada bunganya. Dan jumlah putik juga benang sari yang sama pada
tiap-tiap bunganya, yaitu memiliki 1 putik dan 8 benang sari. Selanjutnya untuk
panjang daun tentunya memiliki ukuran yang berbeda, hasil pengukuran ini
diperoleh dari 3 lembar daun pada tiap bunga kemudian masing-masing diukur
panjangnya dan diambil nilai rata-rata panjang daun dari bunga tersebut,
diperoleh pada bunga Bougenville nila panjang daunnya 4cm, bougenville ungu
panjang daunnya 7,3cm, bougenville orange panjang daunnya 4,5cm, pada
Bougenville putih panjang daunnya 4,7cm, dan Bougenville merah panjang daunnya
4cm. Selanjutnya penelitian terhadap variasi pada bunga bougenville yang
terakhir yaitu lebar daunnya, diperoleh pada bunga Bougenville nila lebar
daunnya 2,2cm, bougenville ungu lebar daunnya 5,0cm, bougenville orange lebar
daunnya 3,0cm, bougenville putih lebar daunnya 2,8cm, dan bougenville merah
lebar daunnya 3,5cm.
4.1.2.
Tabel Persentase parameter bunga Bougenville
|
NO.
|
PARAMETER
|
BN(%)
|
BU(%)
|
BO
(%)
|
BP(%)
|
BM(%)
|
|
1.
|
Warna
bunga
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
2.
|
Warna
daun
|
60%
|
20%
|
60%
|
60%
|
20%
|
|
3.
|
Warna
tangkai
|
40%
|
40%
|
40%
|
20%
|
40%
|
|
4.
|
Jumlah
mahkota
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
5.
|
Jumlah
kelopak
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
6.
|
Jumlah
putik
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
7.
|
Jumlah
benang sari
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
8.
|
Panjang
daun
|
40%
|
20%
|
20%
|
20%
|
40%
|
|
9.
|
Lebar
daun
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
|
KETERANGAN
|
Bunga
Nila
|
Bunga
Ungu
|
Bunga
Orange
|
Bunga
Putih
|
Bunga
Merah
|
b. Pembahasan Tabel
Dari
tabel diatas diketahui bahwa persentase warna bunga Bougenville masing-masing
20% dan jumlahnya sama rata. Selanjutnya warna daun yang terdiri dari daun
berwarna hijau muda berjumlah 60% yaitu pada bunga Bougenville nila, orange,
dan putih. Sedangkan pada warna hijau dan hijau tua hanya 20%, yaitu daun
berwarna hijau tua pada bougenville ungu dan daun berwarna hijau pada
bougenville merah. Kemudian warna tangkai terdapat warna coklat yaitu pada
bougenville nila dan merah sehingga warna tangkai coklat ada 40%, warna tangkai
hijau terdapat pada bougenville ungu dan orange juga 40%, dan warna tangkai
putih kecoklatan pada hanya bougenville putih sehingga memperoleh persentase
sebanyak 20%. Untuk jumlah mahkota yang keseluruhan memiliki jumlah 5 lembar
(sama rata) maka persentasenya 100%, begitu juga jumlah kelopak yang
keseluruhan memiliki kelopak 3 lembar, memiliki jumlah putik masing-masing 1,
dan jumlah benag sari 8. Sehingga untuk jumlah kelopak, putik, benang sari
masing-masing memperoleh 100% pada setiap bunga nya. Selanjutnya terhadap
panjang daun yaitu pada bougenville nila dan merah mendapat hasil yang sama,
sehingga mendapat 40%. Selebihnya memperoleh 20% yaitu untuk bunga bougenville
ungu, ornge, dan putih. Terakhir yaitu lebar daun, karena tiap individunya
tidak ada kesamaan jumlah sehingga masing-masing memperoleh 20%.
4.1.3. Tabel hasil penelitian terhadap
bunga Aster
|
NO.
|
PARAMETER
|
AK
|
AP
|
AU
|
AL
|
AMM
|
|
1.
|
Warna
bunga
|
Kuning
|
Putih
|
Ungu
|
Lembayung
|
Merah
muda
|
|
2.
|
Warna
daun
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
|
3.
|
Warna
tangkai
|
Hijau
|
Hijau
|
Coklat
|
Hijau
|
Coklat
|
|
4.
|
Jumlah
mahkota
|
231
|
172
|
186
|
170
|
138
|
|
5.
|
Jumlah
kelopak
|
28
|
45
|
36
|
29
|
22
|
|
6.
|
Jumlah
putik
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
7.
|
Jumlah
benang sari
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
|
8.
|
Panjang
daun
|
4,9cm
|
8,1cm
|
9cm
|
5cm
|
5,6cm
|
|
9.
|
Lebar
daun
|
3,5cm
|
4,2cm
|
4,1cm
|
1cm
|
1,9cm
|
|
|
KETERANGAN
|
Aster
kuning
|
Aster
putih
|
Aster
Ungu
|
Aster
Lembayung
|
Aster
merah muda
|
c. Pembahasan tabel
Dari
tabel hasil penelitian terhadap bunga Aster pada praktikum keanekaragaman
tumbuhan diatas dapat dijelaskan bahwa, terdapat banyak variasi warna bunga
Aster, yaitu Aster kuning, Aster putih, Aster ungu, Aster lembayung, Aster
merah muda. Warna daun pada tiap bunga Aster adalah sama yaitu berwarna hijau,
sehingga tidak ada variasi untuk warna daun pada bunga Aster. sedangkan warna
tangkai bunga Aster, terdapat 2 macam variasi warna yaitu, hijau dan coklat,
dimana Aster kuning, Aster putih, dan Aster lembayung memiliki tangkai berwarna
hijau, sedangkan Aster ungu dan Aster merah muda bertangkai warna coklat.
Jumlah mahkota pada bunga Aster ini sangat banyak dan jumlahnya sangat
bervariasi, berbeda dengan bunga Bougenville yang memiliki jumlah mahkota yang sama.
Pada
bunga Aster kuning jumlah mahkotanya
adalah 231 lembar, pada Aster putih jumlah mahkotanya 172 lembar, Aster
ungu jumlah mahkotanya 186 lembar, Aster lembayung jumlah mahkotanya 170 lembar
dan pada Aster merah muda jumlah mahkotanya 138 lembar. Begitu juga jumlah
kelopak nya juga sangat bervariasi. Diperoleh pada Aster kuning jumlah
kelopaknya ialah 28 lembar, pada Aster putih 45 lembar, Aster ungu 36 lembar,
Aster lembayung 29 lembar, dan Aster merah muda 22 lembar. Jumlah putik dan
benang sari yang sama pada tiap-tiap bunganya, yaitu memiliki 1 putik dan 5
benang sari. Selanjutnya untuk panjang daun tentunya memiliki ukuran yang
berbeda pula, hasil pengukuran ini diperoleh dari 3 lembar daun pada tiap bunga
kemudian masing-masing diukur panjangnya dan diambil nilai rata-rata panjang
daun dari bunga tersebut, diperoleh pada bunga Aster kuning panjang daunnya
4,9cm, Aster putih panjang daunnya 8,1cm, Aster ungu panjang daunnya 9cm, Aster
lembayung panjang daunnya 5cm, dan pada Aster merah muda panjang daunnya 5,6cm.
Selanjutnya penelitian terhadap variasi pada bunga Aster yang terakhir yaitu
lebar daunnya, diperoleh pada bunga Aster kuning lebar daunnya 3,5cm, Aster
putih lebar daunnya 4,2cm, Aster ungu lebar daunnya 4,1cm, Aster lembayung
lebar daunnya 1cm, dan Aster merah muda lebar daunnya 1,9cm.
4.1.4.
Tabel Persentase parameter bunga Aster
|
NO.
|
PARAMETER
|
AK(%)
|
AP(%)
|
AU(%)
|
AL(%)
|
AMM(%)
|
|
1.
|
Warna
bunga
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
2.
|
Warna
daun
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
3.
|
Warna
tangkai
|
60%
|
60%
|
40%
|
60%
|
40%
|
|
4.
|
Jumlah
mahkota
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
5.
|
Jumlah
kelopak
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
6.
|
Jumlah
putik
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
7.
|
Jumlah
benang sari
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
8.
|
Panjang
daun
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
9.
|
Lebar
daun
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
|
KETERANGAN
|
Aster
kuning
|
Aster
putih
|
Aster
ungu
|
Aster
lembayung
|
Aster
merah muda
|
d.
Pembahasan Tabel
Dari
tabel diatas diketahui bahwa persentase warna bunga Aster masing-masing 20% dan
jumlahnya sama rata. Selanjutnya warna daun yang keseluruhannya berwarna hijau
sehingga masing-masing memperoleh persentase sebnayak 100%. Kemudian warna
tangkai terdapat warna coklat yaitu pada Aster ungu dan Aster merah muda
sehingga warna tangkai coklat ada 40%, warna tangkai hijau terdapat pada Aster
kuning, Aster putih, dan Aster lembayung sehingga total persentase untuk
tangkai warna hijau sebanyak 60%. Untuk jumlah mahkota pada tiap bunga Aster
memperoleh 20% karena setiap bunga memiliki jumlah mahkota yang berbeda
jumlahnya, begitu juga jumlah kelopak yang jumlahnya berbeda-beda sehingga
untuk jumlah kelopak masing-masing bunga Aster memperoleh 20%. Selanjutnya
memiliki jumlah putik masing-masing 1, dan jumlah benag sari 8. Sehingga untuk
jumlah kelopak, putik, benang sari masing-masing memperoleh 100% pada setiap
bunga nya. Selanjutnya terhadap panjang daun Pada masing-masing bunga Aster
memperoleh 20% begitu juga dengan lebar daun Aster juga masing-masing bunga
Aster memperoleh 20%, karena panjang dan lebar daun tiap bunga Aster
berbeda-beda ukurannya.
4.1.6. Tabel hasil penelitian terhadap
bunga Kana (tasbih)
|
NO.
|
PARAMETER
|
KK
|
KM
|
KO
|
|
1.
|
Warna
bunga
|
Kuning
|
Merah
|
Orange
|
|
2.
|
Warna
daun
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
|
3.
|
Warna
tangkai
|
Hijau
|
Hijau
|
Hijau
|
|
4.
|
Jumlah
mahkota
|
5
|
5
|
5
|
|
5.
|
Jumlah
kelopak
|
3
|
3
|
3
|
|
6.
|
Jumlah
putik
|
1
|
1
|
1
|
|
7.
|
Jumlah
benang sari
|
5
|
5
|
5
|
|
8.
|
Panjang
daun
|
37cm
|
40cm
|
39cm
|
|
9.
|
Lebar
daun
|
13cm
|
15cm
|
15cm
|
|
|
KETERANGAN
|
Kana
kuning
|
Kana
merah
|
Kana
orange
|
e.
Pembahasan tabel
Dari
tabel hasil penelitian terhadap bunga Kana pada praktikum keanekaragaman
tumbuhan diatas dapat dijelaskan bahwa, terdapat banyak variasi warna bunga
Kana, yaitu Kana kuning, Kana merah, dan Kana orange. Warna daun pada tiap
bunga Kana adalah sama yaitu berwarna hijau, sehingga tidak ada variasi untuk
warna daun pada bunga Aster. Begitu juga dengan warna tangkai bunga Kana, yaitu
keseluruhan memiliki warna hijau. Jumlah mahkota pada bunga Kana tidak
bervariasi jumlahnya, keseluruhan memiliki jumlah mahkota sebanyak 5 lembar.
Begitu juga jumlah kelopak nya tidak bervariasi. Yaitu jumlah kelopak
keseluruhan jenis Kana adalah 3 lembar. Jumlah putik dan benang sari yang sama
pada tiap-tiap bunganya, yaitu memiliki 1 putik dan 5 benang sari. Selanjutnya
untuk panjang daun tentunya memiliki ukuran yang berbeda pula, hasil pengukuran
ini diperoleh dari 3 lembar daun pada tiap bunga kemudian masing-masing diukur
panjangnya dan diambil nilai rata-rata panjang daun dari bunga tersebut,
diperoleh pada bunga Kana kuning panjang daunnya 37cm, Kana merah panjang
daunnya 40cm, dan Kana orange panjang daunnya 39cm. Selanjutnya penelitian
terhadap variasi pada bunga Kana yang terakhir yaitu lebar daunnya, diperoleh
pada bunga Kana kuning lebar daunnya 13cm, dan Kana merah lebar daunnya 15cm,
dan Kana orange lebar daunnya 15cm.
4.1.7.
Tabel Persentase parameter bunga Kana (tasbih)
|
NO.
|
PARAMETER
|
KK(%)
|
KM(%)
|
KO(%)
|
|
1.
|
Warna
bunga
|
33,3%
|
33,3%
|
33,3%
|
|
2.
|
Warna
daun
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
3.
|
Warna
tangkai
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
4.
|
Jumlah
mahkota
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
5.
|
Jumlah
kelopak
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
6.
|
Jumlah
putik
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
7.
|
Jumlah
benang sari
|
100%
|
100%
|
100%
|
|
8.
|
Panjang
daun
|
33,3%
|
33,3%
|
33,3%
|
|
9.
|
Lebar
daun
|
33,3%
|
66,6%
|
66,6%
|
|
|
KETERANGAN
|
Kana
kuning
|
Kana
merah
|
Kana
orange
|
f.
Pembahasan Tabel
Dari
tabel diatas diketahui bahwa persentase warna bunga Kana masing-masing 33,3%
dan jumlahnya sama rata. Selanjutnya warna daun yang keseluruhannya berwarna
hijau sehingga masing-masing memperoleh persentase sebnayak 100%. Kemudian
warna tangkai juga keseluruhannnya berwarna hijau sehingga masing-masing warna
tangkai hijau sama dengaan 100%.Untuk jumlah mahkota yang keseluruhan memiliki
jumlah 5 lembar (sama rata) maka persentasenya 100%, begitu juga jumlah kelopak
yang keseluruhan memiliki kelopak 3 lembar, memiliki jumlah putik masing-masing
1, dan jumlah benang sari 5. Sehingga untuk jumlah kelopak, putik, benang sari
masing-masing memperoleh 100% pada setiap bunga nya.. Selanjutnya terhadap
panjang daun Pada masing-masing bunga Kana memperoleh 33,3%. Untuk lebar daun
Kana, pada daun Kana kuning memperoleh 33,3%, sedangkan pada Kana Orange dan
Kana merah memperoleh 66,6% karena mempunyai lebar daun yang sama.
4.2.
Hasil Serta Pembahasan Praktikum Keanekaragaman Hewan (ikan)
4.2.2. Tabel hasil penelitian terhadap keanekaragaman hewan
|
No.
|
Parameter
|
Nila Merah
|
Nila Hitam
|
Mujahir
|
Mas Merah
|
Mas Hitam
|
|
1.
|
Warna
seluruh tubuh
|
Orange
|
Hitam
|
Hitam
|
Orange
|
Hitam
|
|
2.
|
Warna
sisik
|
Orange bening
|
Hitam bening
|
Hitam bening
|
Orange bening
|
Hitam bening
|
|
3.
|
Panjang
Sisik
|
0,2 cm
|
0,2 cm
|
1,3 cm
|
1,5 cm
|
1,6 cm
|
|
4.
|
Lebar
Sisik
|
0,2 cm
|
0,2 cm
|
0,8 cm
|
1,0 cm
|
1,5 cm
|
|
5.
|
Panjang
ikan
|
6 cm
|
6,5 cm
|
25 cm
|
27 cm
|
28,6 cm
|
|
6.
|
Lebar
ikan
|
2 cm
|
2 cm
|
10 cm
|
9 cm
|
11 cm
|
|
7.
|
Tinggi
sirip ikan
|
1,5 cm
|
1,0 cm
|
5 cm
|
5 cm
|
6 cm
|
|
8.
|
Panjang
sirip ekor
|
1 cm
|
1,5 cm
|
4 cm
|
5,5 cm
|
6,3 cm
|
4.2.3. Tabel
Persentase parameter dari keanekaragaman Hewan (ikan)
|
No.
|
Parameter
|
Nila Merah
|
Nila Hitam
|
Mujahir
|
Mas Merah
|
Mas Hitam
|
|
1.
|
Warna
seluruh tubuh
|
40%
|
60%
|
60%
|
40%
|
60%
|
|
2.
|
Warna
sisik
|
40%
|
60%
|
60%
|
40%
|
60%
|
|
3.
|
Panjang
Sisik
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
4.
|
Lebar
Sisik
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
5.
|
Panjang
ikan
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
6.
|
Lebar
ikan
|
40%
|
40%
|
40%
|
40%
|
40%
|
|
7.
|
Tinggi
sirip ikan
|
40%
|
40%
|
40%
|
40%
|
40%
|
|
8.
|
Panjang
sirip ekor
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
a. Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan,
bahwa dapat dilihat dari data tabel di atas tersebut sebagai berikut:
§ Untuk warna tubuh ikan, pada ikan nila merah
dan mas hitam memiliki warna tubuh orange sementara pada ikan nila
hitam,mujahir dan mas hitam warna tubuhnya hitam. 40% warna orange pada ikan
nila dan mas merah, sementara ikan nila hitam,mujahir dan mas hitam 60%.
§ Untuk warna sisik ikan, ke lima ikan tersebut
memiliki warna sisik yang sama dengan warna tubuh ikan hanya saja warnanya lebih
bening. Tingkatan % warna sisik ikan sama dengan warna tubuh ikan 40% untuk
ikan yang merah yang hitam 60%.
§ Pada parameter panjang sisik, ikan
nila,mujahir dan ikan mas memiliki perbedaan dimana dapat dilihat panjang sisik
ikan nila merah dan hitam sama, namun ikan mujahir dan ikan mas tidak sama
panjang sisiknya. Dari segi panjang sisik dapat dilihat bahwa ikan-ikan
tersebut memiliki keanekaragam. Panjang sisik ke lima ikan tersebut 20% sama
semua.
§ Untuk lebar sisik ikan, sisik ikan yang
paling lebar pada iakn mas hitam. Namun lebar sisik iakn yang paling kecil pada
ikan nila orange dan hitam. Rata-rata % lebar sisik pada ikan tersebut adalah
20%.
§ Pada parameter panjang ke lima ikan tersebut
juga beragam. Ikan yang paling panjang adalah ikan mas hitam. Dan paling pendek
pada ikan nila. Namun iakn mas orange dan hitam juga memiliki perbedaan ukuran.
Maka % dari panjang ikan-ikan tersebut adalah 20%.
§ Lebar ikan yang telah di amati, bahwa ikan
nila merah dan hitam memiliki kesamaan berbeda dengan ikan mijahir mas merah
dan mas hitam. Akan tetapi ikan mas merah tidak memiliki kesamaan dengan ikan
mas hitam. Ukuran lebar ikan mas lebih dominan di banding ikan mas merah dan
mujahir. Sehingga % lebar ikan dari kelima tersebut adalah 40%.
§ Untuk tinggi sirip ikan, iakn nila merah
dengan ikan nila hitam tinggi siripnya berbeda, namun ikan mujahir dan ikan mas
merah memiliki kesamaan untuk tinggi siripnya. Panjang sirip ikan yang paling
panjang adalah ikan mas hitam. Sehingga % tinggi sirip kelima ikan tersebut
40%.
§ Untuk panjang sirip ekor ikan, panjang sirip
ekor ikan yang paling panjang adalah ikan mas hitam. Sirip ekor yang paling
pendek adalah ikan nila merah. Maka % untuk panjang ekor dari kelima ekor ikan
tersebut adalah 40 %.
Dari hasil parameter keanekaragaman ikan Nila
merah, Nila hitam, Mujahir, Mas merah dan mas Hitam kelima jenis ikan tersebut
mempunyai perbedaan satu sama lain, perbedaan-perbedaan tersebut yang disebut
dengan keanekaragaman. Setiap mahkluk hidup mempunyai beragam ciri-ciri dan
bentuk yang tidak sama. Dari 5 jenis ikan yang dibawa sudah memiliki tingkatan
variasi yang beragam. Jika dibandingkan dengan semua jenis ikan yang ada maka
tingkat keanekargaman ikan sangat tinggi. Keanekaragaman ini dapat terjadi
karena persamaan dan perbedaan atau faktor genetik atau faktor luar. Gen, jenis dan ekosistem dapat mempengaruhi
tingkat keanekaragaman atau variasi makhluk hidup.
4.3. Hasil
Serta Pembahasan Praktikum Keanekaragaman Manusia
4.3.1. Tabel hasil penelitian terhadap
keanekaragaman hewan
|
No.
|
Parameter
|
Nuri
|
Indi
|
Lusi
|
Lola
|
Lanny
|
|
1.
|
Jenis Kelamin
|
P
|
P
|
P
|
P
|
P
|
|
|
Lidah
|
TM
|
M
|
TM
|
TM
|
M
|
|
|
Ibu jari
|
B
|
B
|
B
|
B
|
B
|
|
|
Telinga
|
TG
|
G
|
TG
|
G
|
TG
|
|
|
Telapak kaki
|
L
|
L
|
L
|
L
|
L
|
|
|
Bulu mata
|
TL
|
TL
|
L
|
TL
|
TL
|
|
|
Warna rambut
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
|
Bentuk rambut
|
L
|
L
|
I
|
K
|
I
|
|
|
Golongan darah
|
O
|
A
|
O
|
B
|
A
|
Keterangan :
P/L : Perempuan/Laki-laki
M/TM : Menggulung/Tidak Menggulung
B/L : Bengkok/Lurus
G/TG : Gantung/Tidak Gantung
L/D : Lengkuk/Datar
L/TL : Lentik/Tidak Lentik
H/C : Hitam/Coklat
K/I/L : Keriting/Ikal/Lurus
A/B/AB/O : Golongan darah
M/TM : Menggulung/Tidak Menggulung
B/L : Bengkok/Lurus
G/TG : Gantung/Tidak Gantung
L/D : Lengkuk/Datar
L/TL : Lentik/Tidak Lentik
H/C : Hitam/Coklat
K/I/L : Keriting/Ikal/Lurus
A/B/AB/O : Golongan darah
a. Pembahasan
ü Ibu Jari, Ibu jari pada manusia ada yang
membengkok dan ada yang tidak. Hal ini disebabkan adanya gen dominan dan
resesif. Jari yang dapat membengkok adalah pembawa sifat dominan dan jari yang
tidak membengkok adalah pembawa sifat resesif.
ü Telinga, Telinga pada manusia ada yg bertipe
menggantung dan ada yang bertipe melekat. Telinga yang menggantung adalah
pembawa sifat dominan, dan telinga yang melekat pembawa sifat resesif.
ü Warna Rambut, Warna Rambut pada manusia
umunya hitam dan pembawa sifat dominan, apabila terdapat coklat merupakan
resesif.
ü Lidah, Lidah dibedakan menjadi dua yaitu
lidah yang dapat melipat dan tidak dapat melipat. Lidah yang dapat melipat
merupakan pembawa sifat dominan dan lidah yang tidak dapat melipat merupakan
pembawa sifat resesif.
ü Golongan darah, Penggolongan darah pada
manusia ada empat yaitu A, B, AB, dan O. Pembagian golongan darah ini
didasarkan pada ada atau tidaknya sistem ABO yaitu ada-tidaknya aglutinogen dan
aglutinin dalam darah.
ü Bentuk Rambut, Bentuk rambut npada manusia
yang bertipe lurus, keriting, ikal merupakan bagian dari variasi genetic yang
dihasilkan.
Variasi genetik manusia merupakan keragaman
gen yang menunjukkan jumlah total dari karakteristik gen yang dapat diamati
pada manusia. Setiap manusia memiliki gen yang berbeda-beda. Tidak akan ada dua
orang manusia yang secara genetik sama meskipun mereka kembar identik/kembar
monozigot. Adanya perbedaan gen tersebut terjadi baik pada tingkat spesies
maupun tingkat populasi. Perbedaan gen pada tingkat spesies dapat terlihat dari
adanya variasi fenotip pada setiap individu.
Dari tabel pengamatan ditemukan
bahwa setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda, walaupun ada individu
yang memiliki nomor indeks sama pada cakram genetika namun tetap ada perbedaan
yang dapat diamati dari fenotipnya.
1.
Nuri berjenis kelamin perempuan dengan lidah yang tidak dapat menggulung,
ibu jari membengkok, telinga yang tidak
menggantung, telapak kaki yang lengkuk, bulu mata yang tidak lentik,
dengan warna rambut yang hitam, bentuk rambut yang lurus dan bergolongan darah
O maka indeks keragaman nomor 32.
2. Indi memiliki jenis kelamin perempuan, lidah yang
dapat menggulung, ibu jari yang membengkok, telinga yang tidk menggantung,
dengan tapak kaki lengkuk, bulu mata yang tidak lentik, warna rambut yang hitam
dan bentuk rambut yang lurus serta golongan darah nya adalah A dan indeks
keragaman nomor 21.
3.
Lusi memiliki jenis kelamin perempuan dengan lidah tidak dapat menggulung,
ibu jari yang bengkok, telinga yang tidak menggantung, telapak kaki yang
lengkuk, bulu mata lentik, warna rambut yang hitam dengan bentuk rambut yang
ikal, serta golongan darah yang dimiliki adalah O dan indeks keragaman nomor
28.
4.
Lola yang memiliki jenis kelamin perempuan dengan lidah yang tidak dapat
menggulung, ibu jari yang bengkok, telinga yang menggantung, telapak kaki yang
lengkuk serta bulu mata yang lentik, dengan warna rambut hitam dan bentuk
rambut yang keriting, dan memiliki golongan darah B dan indeks keragaman nomor
10.
5.
Lanny berjenis kelamin perempuan, dengan lidah yang dapat menggulung, ibu
jari yang dapat membengkok, telinga yang bergantung, dan telapak kaki yang
lengkuk, bulu mata yang tidak lentik, warna rambut yang hitam serta bentuk
rambut yang ikal dan golongan darah yang dimilikinya adalah A dengan indeks
keragaman nomor 5.
Keanekaragaman
pada manusia terbentuk oleh sifat-sifat genetika yang dibawa oleh gen dari
orang tua. Sifat- sifat genetika meliputi sifat dominan dan sifat resesif.
Ujung daun telinga yang menggantung atau bebas merupakan sifat dominan,
sedangkan ujung daun telinga yang melekat atau menempel merupakan sifat
resesif. Ibu jari tangan yang melengkung merupakan sifat dominan, sedangkan ibu
jari tangan yang lurus merupakan sifat resesif.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
o
Setiap makhluk hidup memiliki perbedaan
serta persamaan sehingga terdapat variasi antara makhluk hidup tersebut.
o
Variasi yang terdapat pada makhluk hidup
menandakan ciri khas dari makhluk hidup tersebut
o
Pada tumbuhan yang digunakan dalam
praktikum pada umumnya memiliki persamaan yaitu jumlah benang sari dan putik
o
Pada hewan yang digunakan dalam
praktikum pada umumnya memiliki perbedaan dari ukuran tubuh.
o
Pada manusia memiliki variasi yang
sangat banyak, karena antara satu manusia dengan manusia yang lain tidak ada
yang persis sama.
5.2 Saran
Dalam
melakukan praktikum genetika tentang keanekaragaman makhluk hidup, sebaiknya
menambahkan parameter yang akan diamati pada makhluk tersebut sehingga dapat
diketahui adanya variasi antar makhluk hidup tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bhimasarf.
2009. Imitasi Perbandingan Genetik. http://bhimashraf.blogspot.com/2009/12/imitasiperbandingan-genetik
imitasi.html) diakses pada tanggal
18 oktober 2015
Nio,Tjan
kwiauw. 1990. Genetika Dasar. ITB Press : Bandung
Stansfield, William D. 1983. Genetika,
Edisi Ketiga. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Starr, Cecie and Beverly
McMillan. 2010. Human Biology, Eighth Edition. New York :
Brooks/Cole Cengage
Learning.
Susanto, Agus H. 2011. Genetika.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Winchester, A. M. 1958. GENETICS
: A Survey of The Principles of Heredity. Massachussets: The Riberside
Press.
Yatim,
Wildan .2003 .Genetika. Tarsito : Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar